Kejujuran : Faktor Mutlak Hubungan Pengacara dengan Client

Masalah Kejujuran

Dari pengalaman kami menangani client, isu kejujuran ini terasa begitu mendesak untuk dipahami oleh kedua pihak. Dipahami dengan baik oleh client maupun oleh pengacara atau lawyer.

Seorang client ketika datang kepada lawyer, adalah sama seperti ketika seorang pasien mendatangi dokter untuk berkonsultasi.

Kejujuran pasien mutlak diperlukan baik terhadap dokter. Demikian juga client terhadap lawyer / pengacara.

Mengapa? tentu saja jika pasien tidak jujur atau tidak terbuka terhadap dokter tentang kondisinya, dokter bisa salah melakukan diagnosis. Dan akan berujung pada pengobatan yang salah. Alih-alih sembuh, pasien bisa semakin parah penyakitnya atau kondisinya akan memburuk.

Bukankah situasi seperti sangat perlu untuk dhindarkan? Demikian pula pada client terhadap lawyer / pengacara. Jika informasi atau fakta-fakta yang disampaikan client tidak jujur, atau tidak terbuka, lawyer / pangacara akan salah menyampaikan nasihat hukum nya. Dan akan berakibat fatal pada client itu sendiri.

Kebutuhan Informasi Obyektif

Baik dokter ataupun lawyer, sama-sama membutuhkan informasi atau data-data yang akurat dari pasien ataupun client agar darinya dapat dibangun diagnosis atau analisis hukum yang valid, dapat menyelesaikan masalah / penyakit yang dihadapi pasien atau client dengan efektif. Dan efisien.

Baik dokter ataupun lawyer, dilindungi oleh hukum terhadap informasi yang disampaikan oleh client ataupun pasien. Sehingga pasien dan client tidak perlu kuatir menyampaikan informasi atau data nya.

Kadang bisa jadi client merasa sulit terbuka kpd lawyer karena dia anggap, jika dia terbuka dan apa adanya, maka lawyer nya akan balik badan dan tidak akan membelanya lagi.

Padahal, terhadap masalah yang dihadapi client, lawyer atau pengacara atau advokat, akan tetap melindungi hak-hak hukum yang dimiliki oleh client. Penting untuk disadari bahwa pengacara atau advokat bukanlah dewa langit yang akan membuat yang bersalah menjadi benar, atau sebaliknya menyalahkan yang benar.

Pengacara atau advokat akan membela hak-hak hukum seorang client agar tidak diperlakukan semena-mena oleh pihak lain termasuk penguasa. Akan membela client supaya tidak menjadi korban perbuatan jahat baik secara pidana ataupun perdata oleh pihak lain.

Atau agar client, ketikaa menjadi seorang tersangka atau terdakwa, tidak dihukum oleh hakim melebihi kesalahannya.

Bahkan seorang pengacara atau advokat akan menjaga ditegakkannya asas ultimum remidium dalam arti yang luas, yakni akan membantu client nya agar tidak buru-buru menempuh jalur hukum pidana, baik ketika dia sebagai pelapor ataupun terlapor.

Pengacara, adalah seseorang yang sering dan biasa menghadapi bermacam-macam tipe client. Akan dengan mudah, menilai situasi dimana client menyampaikan informasi dengan jujur atau tidak. Namun akan jauh lebih mudah jika client jujur dan terbuka sejak awal, sehingga kami para lawyer bisa fokus mencari solusi terbaik bagi client dengan informasi yang terbuka tersebut.

Kejujuran Pengacara / Lawyer

Agar adil, kejujuran tidak hanya diperlukan oleh para client, namun juga diperlukan oleh kami para pengacara / lawyer. Kejujuran seperti apa? Terhadap pilihan atau alternatif-alternatif solusi yang tersedia bagi client misalnya.

Lawyer / pengacara perlu jujur menyampaikan situasi yang dihadapi client. Tidak menambahi, tidak mengurangi. Tentu saja adakalanya client tidak perlu dibuat terlalu kuatir / stress terhadap resiko-resiko yang dia hadapi. Namun itu bisa dilakukan dengan penyampaian yang baik.

Terhadap alternatif-alternatif tersebut, lawyer perlu berbesar hati, berorientasi terhadap kepentingan client, tidak berorientasi terhadap profit semata.

Contoh: Client X menghadapi masalah pencemaran nama baik. Namun disisi lain client X jg melakukan pelanggaran pidana. Sehingga misalnya pilihan terbaik adalah mediasi, maka lawyer tdk boleh mengarahkan si client X utk menempuh proses hukum pidana tanpa menyampaikan solusi terbaiknya adalah mediasi.

Disitulah letak pentingnya kejujuran untuk dimiliki oleh lawyer / pengacara. Sama seperti seorang dokter bedah. Tidak boleh seorang dokter bedah menyarankan tindakan tertentu (operasi batu ginjal misalnya) sedangkan diketahuinya sebenarnya batu tersebut masih berupa kabut yang bisa diselesaikan melalui pengobatan saja.

Sehingga, client atau pasien, juga sama, perlu bersikap kritis terhadap masukan dari dokter ataupun lawyer / pengacara nya. Surabaya.

Akhir kata, sepahit apapun informasi yang ada, client wajib menyapaikannya ke pengacara / lawyer nya. Seburuk apapun kebenaran dari informasi tersebut, pengacara atau lawyer yang baik akan berusaha mencarikan solusi terbaik bagi client.

Leave a Reply

Your email address will not be published.